Aurat Wanita : Jilbab Dan Tudung Adakah Sama?.

Era sains dan teknologi hari ini telah melanda pemikiran umat Islam dengan pola-pola fikir dari peraturan hidup kufur yang pokok dan usul pemikirannya adalah fashl ud-din anil hayat (memisahkan agama dengan kehidupan). Ada yang menganggap Islam itu tidak pernah wujud kehidupannya dalam sains dan teknologi, dan ada yang menganggap islam tidak sesuai dengan kehidupan modern yang berteras dan berasaskan teknologi, “Islam hanya untuk peribadatan (ritual) dan tiada kena mengena dengan kehidupan.”. Inilah beberapa pandangan jumud umat Islam akhir zaman ini. Termasuklah dalam aspek pemakaian.

Yang sedihnya semakin hari kita lihat pada sudut reality semakin banyak fesyen-fesyen muta’akhir seakan berlumba-lumba untuk mengajak umat Islam khususnya wanita agar bisa memperagakan tubuhnya, ya sekiranya dipakai di dalam rumah itu terpulang, Peliknya fesyen-fesyen ini di praktikkan di luar rumah. Ada yang memakai tudung labuh sehingga menutup pusat tetapi memakai busana kebaya, ada yang memakai tudung khas sekadar menutupi rambut yang bisa menampakkan leher, ada juga yang memakai tudung tetapi bert-shirt dan seluar jeans dan untuk yang tidak bertudung apatah lagi, sehinggakan ada di antara mereka peragakan pakaian anak kecil berumur enam tahun sewaktu keluar rumah yang bisa menampakkan pusat dan segala susuk tubuh mereka.

Adakah ini imej dan personaliti muslimah solehah yang dalam hatinya mendambakan syurga firdaus???. Sama sekali tidak dan salah. Mungkin bagi mereka yang beriman dan menyatakan diri muslimah solehah akan membantah dan menyatakan, ”wahai akhi ana memakai jilbab, adakah salah ana memakai jilbab (tudung labuh mengikut tafsirannya)”. Ya sama sekali salah kerana aurat wanita ada dua kewajiban khas untuk mereka iaitu jilbab dan khimar. Untuk menyatakan jilbab itu tudung yang di labuhkan hingga menutupi dada juga salah.

Memang dalam pembicaraan sehari-hari umumnya masyarakat menganggap jilbab sama dengan tudung labuh. Anggapan ini salah. Jilbab tidak sama dengan tudung labuh. Jilbab adalah busana bagian bawah (al-libas al-adna) berupa jubah, yaitu baju longgar terusan (tidak terputus / terpotong). Sedang tudung labuh merupakan busana bagian atas (al-libas al-a’la) yaitu penutup kepala. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al-Fuqaha`, hal. 124 & 151; Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam Al-Wasith, 2/279 & 529).

Jilbab dan tudung labuh merupakan kewajiban atas perempuan muslimah yang ditunjukkan oleh dua ayat Al-Qur`an yang berbeza. Kewajiban jilbab dasarnya surah Al-Ahzab ayat 59, sedang kewajiban tudung labuh (khimar) dasarnya adalah surah An-Nur ayat 31.Mengenai jilbab, Allah SWT berfirman (artinya),

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min,’Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ (QS Al-Ahzab : 59).

Dalam ayat ini terdapat kata jalabib yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata jilbab. Memang para mufassir berbeza pendapat mengenai arti jilbab ini. Imam Syaukani dalam Fathul Qadir (6/79), misalnya, menjelaskan beberapa penafsiran tentang jilbab. Imam Syaukani sendiri berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada tudung labuh, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah). Ada yang berpendapat jilbab adalah semacam cadar (al-qinaa’), atau baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan (ats-tsaub alladzi yasturu jami’a badan al-mar`ah). Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (14/243), dari berbagai pendapat tersebut, yang sahih adalah pendapat terakhir, yakni jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan.

Walhasil, jilbab itu bukanlah tudung labuh, melainkan baju panjang dan longgar (milhafah) atau baju kurung (mula`ah) yang dipakai menutupi seluruh tubuh tanpa terputus antara bahagian pinggan hingga buku lali di atas baju rumahan. Jilbab wajib diulurkan sampai bawah (bukan baju potongan), sebab hanya dengan cara inilah dapat diamalkan firman Allah (artinya) “mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Dengan baju potongan, berarti jilbab hanya menutupi sebagian tubuh, bukan seluruh tubuh. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fil Islam, hal. 45-46).

Jilbab ini merupakan busana yang wajib dipakai dalam kehidupan umum, seperti di jalan atau pasar. Adapun dalam kehidupan khusus, seperti dalam rumah, jilbab tidaklah wajib. Yang wajib adalah perempuan itu menutup auratnya, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, kecuali kepada suami atau para mahramnya (lihat QS An-Nur : 31).

Sedangkan tudung labuh, yang bahasa Arabnya adalah khimar, Allah SWT berfirman (artinya) ,

“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya…” (QS An-Nur : 31).

Dalam ayat ini, terdapat kata khumur, yang merupakan bentuk jamak (plural) dari khimaar. Arti khimaar adalah tudung labuh, yaitu apa-apa yang dapat menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar-ra`su). (Tafsir Ath-Thabari, 19/159; Ibnu Katsir, 6/46; Ibnul ‘Arabi, Ahkamul Qur`an, 6/65 ).

Kesimpulannya, jilbab bukanlah tudung labuh, melainkan baju jubah bagi perempuan yang wajib dipakai dalam kehidupan publik. Karena itu, anggapan bahwa jilbab sama dengan tudung labuh merupakan salah sama sekali yang seharusnya diluruskan.

Ini sama sekali berbeza dengan lelaki, yang hanya wajib menutup auratnya dari pusat hingga ke bawah lutut sama ada untuk keluar dari rumah mahupun berada di dalamnya kecuali ketika bersama mahram dan sahabat handainya. Secara logik akalnya sahaja kita dapat memikirkan sekiranya wanita itu berjilbab (berjubah) yang sememangnya longgar dan berkhimar masakan ada lelaki yang bisa terngiur terhadap penampilannya mahupun peragaannya. Bukankah hebat aturan Allah dengan hanya berpakaian kita bisa mengelakkan dari maksiat mata hingga mengelakkan dari berlakunya kes-kes rogol mahupun penzinaan.

Nah sekiranya kita mendambakan syurga Allah pasti kita akan mengikuti aturannya yang banyak memberi faedah untuk diri dan orang lain. Namun jika kita mendambakan neraka Allah sebagai tempat tinggal di akhirat kelak yang selamanya teruskan sahaja dengan pakaian ala gadis melayu terakhir itu. Kerana sememangnya di dalam dunia kita akan diberi dua pilihan sama ada pilihan untuk berusaha mendambakan syurga atau berusaha menempah tiket ke neraka. Sama ada melakukan perkara-perkara fajir (buruk, maksiat) mahupun yang takwa. Tetapi harus di ingat setiap diri akan dipertanggung jawabkan atas segala amal perbuatannya. Lantas berusahalah untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik dari semalamnya semoga dengan usaha itu bisa menjamin sebuah keteladanan untuk generasi berikutnya dengan nikmat islam yang sempurna tanpa ada pengkompromian dengan sebuah kekufuran dan kemunafikan yang sudah hampir sebati dengan kehidupan makhluk yang bergelar manusia.

Wallahu a’lam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: